poetra Indrajaya

Penerbit - Percetakan

Blog

Dhony hardana Indrajaya


merupakan anak pertama dari keluarga Indrajaya

lahir dan tinggal di Bandar lampung

merintis usaha percetakan dan penerbitan

yang di beri nama poetra Indrajaya

dan berkantor pusat di

Gedung Harian Lampung Ekspres plus

di Jalan Urip sumoharjo no 88 Gunung Sulah Bandar Lampung

view:  full / summary

Posted at 11:54 AM on June 22, 2009 Comments comments (0)

    By :Andy W

 

 

Bagian Pertama

 

Pick up Ford tua berwarna abu-abu itu terseok-seokmendaki  jalan tanjakan yang berbatu-batudi Gunung Sulah.Mesin mobil itu meraung-raung kelelahan. Air radiatornya panas.Dari tutup mesin mengepul asap putih. Selepas jalan mendaki barulah pick up itu berlari tenang membelah jalankebun melewati pohon-pohon karet muda yang baru tahun ini disadap.  Siang ini tidak tampak kuli-kuli sadap disepanjang alur kebun. Menyadap getah karet biasanya dilakukan oleh para kulikontrak pada pagi hari saat fajar baru mulai menyingsing sampai menjelang pukulsepuluh. Pada kedua sisi  jalan berbagaitumbuhan  semak mulai tumbuh dengan liar,silang siur antara semak yang rimbun dengan tumbuhan sulur yang menjalarpanjang. Tumbuhan-tumbuhan liar itu merayap ke tanah rendah berusaha mencekik pohon-pohon karet yang masih muda.

Josep van der Lande adalah asisten kebun di afdelingRoterdam, sebuah area perkebunan di pedalaman Lampung di bawah pengusahaanMaschapij Onderneming van Nederland yang berkantor besar di Batavia danberkantor wilayah di Kedaton, Tanjungkarang. Nama area afdeling perkebunan itudiambil dari kota kelahiran administrator pertama ketika wilayah itu mulaiditanami. 

Pada awal abad ke-sembilan belas Pemerintah KerajaanBelanda ditekan oleh kaum liberal di parlemen atas penindasan tanam paksa yang menyengsarakan rakyat tanah Hindia,tetapi sangat menguntungkan pemerintah kolonial Belanda. Sebagai akibat daritekanan kaum liberal Eropa itu, pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1870 mengizinkaninvestasi swasta di sektor perkebunan. Dampaknya,  banyak perusahaanswasta asing menanamkan modal di Indonesia, yang ketika itu masih disebut Hindia Belanda, dalam sektor perkebunan.Di Deli Sumatera Utara dibuka perkebunan tembakau yang kemudian hasiltembakaunya sangat terkenal ke seluruh dunia, di Lampung  mulai dibuka perkebunan kelapa sawit dankaret menjelang akhir abad  ke-19.Mula-mula tanaman karet berada di sekitar daerah Kedaton, Gunung Sulah, dan WayHalim. Tiap afdeling diberi nama sesuai tempat lahir sang adminstrator yangmerintis pembukaannya, misalnya Bergen dan lain sebagainya. Perluasanselanjutnya mengarah ke area sebelah timur. Afdeling ini kemudian diberi namaRoterdam. Nama Roterdam terus melekat sebagai afdeling atau cabang dari suatuwilayah perkebunan milik Perusahaan Perkebunan Swasta Belanda.

Josep van der Lande sang asisten baru pulang dari Kedatonmengambil gaji tengah bulanan kuli kontrak. Lelaki muda yang berasal dari kota kecil Breda, negeri Belanda inisudah  tujuh tahun berada di perkebunankaret wilayah  Lampung. Dia adalah dropout dari Fakultas Kedokteran Hewan tingkat empat sebuah Universitas dinegerinya. Oleh sesuatu hal, dia memutuskan berhenti kuliah dan  hijrah ke tanah Hindia. Sekarang ia mendapattugas untuk mengawasi perluasan wilayah dengan membuka kebun baru agak kepedalaman yang kelak diberi nama Afdeling Roterdam.  Bersama dengan seorang administrator danbeberapa orang kerani mereka memimpin ratusan kuli kontrak  menebas hutan. Pohon dan semak  disingkirkan, tanah-tanah merah  dicangkul dijadikan gundukan dan kemudiandilubangi searah jalur memanjang.  Rimbayang dijadikan kebun baru amat luas. Merupakan sebuah habitat yang tergusur,entah berapa ratus jenis hewan menyingkir semakin jauh ke dalam rimba danratusan ragam tumbuhan mati. Yang mampu bertahan hanya jenis tumbuhan rambat,paku, dan rumput-rumputan, perlahan-lahan muncul ke permukaan tanah dan  hewan jenis serangga. Sejauh mata mamandanghanyalah keluasan hamparan tanah kosong yang kemudian pada ujungnya membenturrimbunan rimba menghijau.  Saat ini sudahhampir sebagian tanah yang luas itu tertanami bibit pohon karet. 

Mobil Ford jenis pick up itu terus meluncur membelah keduasisi kebun karet. Kemudian melewati kampung-kampung miskin penduduk pribumi danberhenti di sebuah tepian sungai yang airnya meluas membentuk rawa lebarsemacam danau. Orang-orang pribumi Lampung menyebut kumpulan genangan airsungai yang meluas ini lebak lebung.  Lebak lebung terjadi sebagai akibat air sungaimeluap di musim hujan. Tempat ini membawa rejeki tersendiri bagi penduduk desa,karena ikan-ikan dari   hulu sungaiberkumpul di sana, bertelur, dan berkembang-biak. Penduduk memanfaatkan lebaklebung ini untuk menangkap ikan dan mengumpulkan telur ikan atau terubuk.  Untuk sampai ke seberang orang harus naikrakit. Rakit dibuat dari rangkaian bambu berlapis, lebarnya lebih dari duameter dan panjang hampir enam meter. Rakit ini selain memuat orang dapat jugamemuat gerobak sapi dan mobil kecil jenis pick up. Dari tepian yang satu ketepian seberang direntangkan seutas tambang sebagai jalur pelayaran rakit.Ujung rakit diikat dengan seutas tambang besar yang dikaitkan kepada rentangantali tersebut sehingga rakit tidak terbawa arus saat menyeberang.

Genangan air ini hanya terjadi pada musim penghujan dan terusmenggenang sampai empat atau enam bulan. Kemudian perlahan-lahan air menyusutsampai pada musim kemarau air akan surut. Sehingga, pada bekas lebak lebungitu  menjadi daratan yang rata dan padatberbatu-batu kecil. Aliran sungai pun menjadi menyempit selebar kurang darisetengah meter dan berair sangat dangkal. Menjelang air lebak lebung surut,orang mulai menangguk ikan, udang, dan terubuk (telur ikan). Lebak lebungmerupakan rahmat Tuhan bagi penduduk asli. Mereka mendapat penghasilan tambahansetiap tahun dengan menjual ikan asin dan terubuk.  Pada musim kemarau dasar lebak lebung inidapat dilalui mobil.

Penduduk asli Lampung walau tinggal di sisi perkebunan tidakada yang menjadi kuli kebun. Umumnya mereka petani tanaman keras, seperti kopiatau lada.

 Sopir, seorang pribumiberasal dari Jawa merangkak keluar dari sisi kemudi, melangkah ke tepi sungai,dan berteriak memanggil tukang rakit dengan nyaring.

 ?Udiiiin?!?

Tak ada sahutan. Ia menatap ke seberang.  Tampak rakit tertambat di seberang, tetapitidak terlihat si tukang rakit yang bernama Udin itu.

?Tidak ada tukang rakit?? Josep yang duduk di sisi kemudibertanya tidak sabar. Ia tampak gelisah. Jika tidak ada tukang rakit, berartiharus menyeberang di hilir dan berjalan kaki sejauh dua puluh kilo meter untuksampai  ke lokasi kebun baru. 

?Ada, tuan. Tetapi masih di seberang,? sahut si pengemudi.

?Panggil!?

Sang sopir berteriak lagi. Tetap tidak ada sahutan.

?Mungkin dia sedang minum kopi di warung, tuan,? ujar sangsopir.

Josep membuka pintu, turun dari kendaraan. Ia melangkah ke arah sopirnyadan berdiri di tepian. Di sekitarnya terasa lengang, sunyi sepi, tiada angin.Semak belukar di tepi sungai tidak bergerak. Air sungai berwarna coklak mengalirlamban. Suasananya kaku, agak gerah. Langit diselubungi awan, tetapi udaragerah karena hujan tidak jadi turun dan angin mati. 

?Di mana dia??  Josepsemakin tidak sabar. Matanya nanap memandang ke arah seberang. Pada jarak yanglebih dari seratus meter di seberang itu tampak kegiatan beberapa orang. Namuntidak berlihat lelaki setengah baya si tukang rakit yang telah lama menjadilangganannya.

Tiba-tiba si sopir berseru sambil menunjuk ke arah tepianseberang, ?Itu dia!?           Josep jugamemandang ke arah seberang. Nun di seberang sana tampak lelaki setengah bayaitu muncul dari rumpun semak dan berjalan ke tepian. Sebelum melompat ke rakitia menggapaikan tangan memanggil orang-orang yang akan naik rakit untukmenyeberang. Hanya ada empat orang yang ikut dalam rakit. Rakit itu didorongnyadengan galah. Perlahan-lahan rakit bergerak menuju ke seberang. Baru sajahaluan rakit menyentuh permukaan  tanah,dua orang penumpang melompat turun.

?Terus naikkan ke darat. Kami akan memuat mobil!? seru sopir.

Si tukang rakit melompat ke air lalu mendorong rakit sampaiseperempatnya berada di darat agar kendaraan dapat naik. Sopir menyalakanmesin, perlahan-lahan menjalankan kendaraannya naik ke rakit. Rakitbergoyang-goyang ketika roda depan menyentuh landasan.

?Terus!? tukang rakit memberi komando.

Sopir yang sudah sangat berpengalaman menaiki rakitperlahan-lahan menekan gas. Pick up itu bergerak ke atas rakit. Lalu dengansigap si tukang rakit mengikat roda-roda kendaraan ke sisi landasan rakit.

Josep memperhatikan lelaki setengah baya itu bekerja dengancekatan dan sangat mengenal segalanya. Lelaki setengah baya itu tampak sangattenang tanpa bergegas sedikit pun.

?Siap!? seru si tukang rakit sambil siap mendorong rakit keair.

Josep melompat naik ke atas rakit.

?Ayo, jalan!?

Tukang rakit mendorong rakit sampai seluruhnya mengapung dipermukaan air. Kemudian ia melompat dan dengan cekatan mendorong rakit dengangalahnya. Rakit pun melaju sealur rentangan tali.

Semalam hujan turun deras. Permukaan air lebak lebung itu tinggi,tetapi arusnya lamban. Beberapa orang anak berenang ke arah rakit laluberpegang ke sisi sambil mengikuti arah rakit berlayar.

?Hei, jangan digayuti. Nanti rakit oleng!? seru si tukangrakit.

Anak-anak itu beralih ke buritan, bergayut pada ujung rakit.

?Apa di sini tidak ada buaya?? Josep bertanya.

?Ada,? sahut si tukang rakit.

?Dari mana??

?Berbagai jenis ikan masuk dari sungai, tentu buaya pun ikutmasuk.?

?Tidak adakah anak yang dimakan buaya??

?Baru kemarin seorang anak disambar buaya.?

?Mati??

Si Udin, tukang rakit itu menatap Josep. Di dalam hatinya diaberujar, alangkah bodohnya orang Belanda ini. Mana ada orang yang disamberbuaya hidup. Lalu ia melanjutkan, ?Mayatnya sampai sekarang tidak ditemukan.?

Mata Josep membelalak, menatap tajam ke arah tukang rakit.Lalu beralih ke arah air.  Riak air yangmembuih bekas lintasan rakit diperhatikannya. Diamatinya setiap gerak yang adadi permukaan air.

Udin melanjutkan, ?Anak itu sedang berenang sendirian,tiba-tiba  muncul seekor buaya danmenerkamnya. Ketika itu saya sedang minum kopi bersama beberapa orang. Kamimemang mendengar teriakannya, tetapi sudah tidak sempat lagi menolongnya. Anakitu diseret oleh buaya dan tidak kembali. Itu artinya dia mati.?

?Benarkah mayatnya tidak ditemukan??

?Ya, tuan.?

Tiba-tiba seorang anak yang duduk mencangkung pada ujungrakit terpeleset jatuh ke air. Secara refleks anak itu berpegang padagalah.  Tubuh Udin, si tukang rakitoleng. Ia berteriak, ?Jangan berpegang pada galahku!?

Anak itu menyelam ke dalam air dan timbul agak jauh darirakit. Anak-anak yang lain segera berenang menyusulnya.

?Anak-anak itu tidak takut dimangsa buaya??

?Mereka sudah biasa bermain di air.?

?Bila tiba-tiba muncul lagi buaya??

?Ya, entahlah tuan??

Rakit mulai mendekati tepian seberang. Udin menekan galahnyake dasar lebak lebung yang berbatu agar haluan rakit merapat pada tanah landai.Setelah rakit bergoyang kian ke mari, akhirnya ujung haluannya menyentuhdaratan. Udin melompat ke air, dengan sekuat daya ia menarik rakit naik kedaratan. Separuh badan rakit berada di daratan.

Wiryo, si sopir segera menyalakan mesin. Ford pick up itumulai merenta-renta. Josep menyerahkan sejumlah uang kepada tukang rakit.

?Tabik, tuan. Terima kasih,? ujar Udin.

?Ya, tabik.?

Josep naik dan duduk di sisi sopir. Mobil itu bergerakperlahan-lahan naik ke darat. Jalur jalan dari dermaga rakit itu sengajadilapisi batu sehingga walaupun musim penghujan tidak licin.  Mobil terus melaju melalui jalan sempit danberkelok-kelok yang pada kedua sisinya berupa hutan belukar. Beberapa menitkumudian kendaraan itu memasuki rimbunan rimba belantara. Pohon-pohon besartumbuh rapat dan tinggi menjulang ke angkasa, bercampur dengan berbagai jenispaku dan jenis pohon rambat. Tajuk pohon-pohon raksasa itu melebar menutup langityang berawan. Lingkungan sekitar jalan kecil itu menjadi teduh, senyap, dansepi. Tidak tampak kehidupan, selain sesekali beberapa ekor kera melompat kedahan. Dari atas dahan kera-kera itu melongok ke bawah, aneh melihat bendamerayap dengan suara menggerung-gerung. Kera-kera itu sesekali menyeringaimengancam. Serombongan burung puyuh cepat-cepat melintas di jalan yang semakinlama semakin buruk di daerah yang redup. Dengan lamban pick up Ford itumerayap, sesekali terperosok di jalan berlubang, badannya terguncang. Sipengemudi dan penumpangnya pun terguncang. Josep mengerang karena guncanganitu. Tangannya memegang perutnya kuat-kuat agar guncangan kendaraan itu tidakterlalu terasa. Yosep membuka topi lakennya dan meletakkan di sisi tempat duduk. Jas tutup berwarna putih sudahditanggalkan sejak menjelang sampai ke lebak lebung. Jas itu terlipat di sisitempat duduknya. Si sopir tenang saja menjalankan kendaraannya. Ia mengemudihati-hati dan sepertinya pasrah terhadap jalan yang berlubang-lubang itu.

Satu jam lamanya mereka menempuh perjalanan dua puluh kilometer yang terakhir dari tepian lebak lebung sampai ke ujung sisi rimba.  Sekarang mereka tiba di daerah terbuka yanghutannya baru dirambah. Pohon-pohon raksasa telah ditumbangkan, disingkirkan ketepi, dan ranting-ranting dibakar. Tanah yang terbuka itu sangat luas,keluasannya menjangkau tepi langit nun jauh di ujung sana. Rimba menghijautampak sayup. Dua buah bukit mengapit keluasan tanah itu.  Daerah itu adalah bagian yang hendak dibukauntuk perkebunan baru. Sedangkan pada keluasan tanah di arah baratnya telahditanami beratus-ratus bibit pohon karet. Rimba raya dengan aneka tumbuhan liartelah berganti dengan tunas-tunas karet muda. Pada daerah ini beratus-ratuspekerja tengah menancapkan sepotong ranting pada tanah memberi tanda untukpenanaman bibit karet. Mereka bertelanjang dada. Para kuli kontrak itu sebagianberasal dari afdeling lain yang khusus ditugaskan ke daerah ini. Mereka telahberkeluarga, ada sebagian pekerja yang anak dan istri mereka ikut ke wilayahini. Tetapi, kebanyakan keluarga mereka ditinggal di kebun asal. Banyak jugakuli-kuli baru yang didatangkan dari daerah Banten dan Jawa Tengah.

Jalan yang baru dibuka ini tanahnya lembek dan lembab,sesekali pick up itu terperosok. Mesinnya meraung-raung. Roda belakangnyaberputar kencang, namun  lamban bergerak,merayap menaiki tanah yang semakin terkelupas karena putaran ban, membuatkendaraan itu  semakin sulit melaju.Beberapa saat kemudian mobil itu memasuki area kebun yang sudah ditanamitunas-tunas muda bibit karet. Pada kedua sisi jalan tampak pohon-pohon karetmuda yang masih kecil  berbaris sejajarbagaikan murid sekolah dalam suatu upacara. Tidak tampak pekerja di sana, hanyapada waktu-waktu tertentu petugas menyemprotkan anti hama pada tanaman. Parapekerja berada pada area yang mulai digarap dan ditanami di sisi lain.

Akhirnya pick up itu berhenti di depan kantor administrator.Sopir memarkir kendaraannya dan segera mematikan mesin. Josep mengenakan jasnyayang sejak dalam perjalanan dilepas. Menutup seluruh kancingnya. Ia segeraturun. Tangan kanannya menjinjing tas berisi uang sambil mengepit topilakennya.

Kantor itu dibangun dari tiang-kayu  berdinding papan kasar. Atapnya daridaun  rumbia.  Ruangannya luas hanya ada satu sekat papanmemisahkan antara ruang pegawai dengan administrator kebun. Tiga orang keraniatau pegawai administrasi tengah sibuk bekerja. Meja dan kursi mereka tidakbercat. Salah seorang sedang mengetik sesuatu di mesin tik tua yang warnanya sudahkusam. Suara mesin tik itu memecah kesenyapan alam sekitar. Josep memasukiruang kantor itu.

?Tabik,? seorang karyawan menyapanya.

Josep mengangguk dan terus melangkah ke ruang administrator.

?Bagaimana?? tanya sang administrator, seorang Belanda bertubuhgemuk, perutnya buncit karena kebanyakan minum bir, wajahnya tembam dengankulit pipi kemerah-merahan terbakar terik matahari.

?Beres semua. Tuan,? sahut Josep.

?Sore ini bisa kamu bayarkan upah mereka!?

?Ya,? sahut Josep datar seraya mengeluarkan sejumlah uanglalu memasukkannya ke dalam brankas. Dari tas yang telah kosong itu iamengeluarkan surat-surat bukti pengambilan uang dari kantor Kedaton dan lembardaftar upah para kuli. Surat-surat itu dimasukkan ke dalam map lalu diserahkanmap itu kepada tuan administrator.

?Ini lembar bukti penerimaan dan rincian upah.?

Sang administrator menerimanya dengan acuh. Ia percaya bahwasemua berkas-berkas itu telah dikerjakan dengan benar oleh asistennya.

 Josep melihat ke arahjam  yang tergantung di  dinding. Sudah lewat dua puluh menit pukuldua belas.

?Saya mau pulang dulu,? ujar Josep.

Sang administrator melihat jam tangannya. Dia tersenyum, ?Ya,sudah waktu makan dan tidur siang.? Setelah Josep berlalu, sang asisten yangsudah tua itu mengomel, ?Kalian asisten muda pemalas. Dulu selagi aku mudatidak ada waktu tidur. Tidak mengenal hari Sabtu. Kami harus bekerjakeras.?  Van Steur, sang administratorini sudah puluhan tahun bekerja di perkebunan. Sebelumnya  ia adalah seorang asisten senior di kebunBergen (sekitar Way Halim) pangkatnya dinaikan menjadi Administrator di kebunbaru yang  baru dibuka yang kelak bernamaafdeling Roterdam. Dia didampingi oleh Yosep van der Lande sebagai asistenseniornya. Karena kepindahannya itu, istri van Steur sementara pulang keNederland.

Beberapa puluh meter dari halaman belakang bangunan kantorberdiri tiga buah rumah panggung rendah, yang tingginya hanya lima puluh sentimeter  dari permukaan tanah. Lantai dandindingnya terbuat dari papan dan atapnya dari daun rumbia. Rumah-rumah itubentuknya seragam, terdiri dari teras terbuka, ruang tengah,  dua kamar tidur.  Dapur dan kamar mandi berada di bawah bagianbelakang. Sebuah rumah ditunggu oleh Josep dan yang sebuah oleh Van Steur sangadministrator, dan yang sebuah masih kosong.

 Agak jauh daribangunan rumah dinas para pembesar kebun, di arah utara dekat tanah yangterbuka berdiri barak-barak untuk para kuli kontrak yang bujangan danrumah-rumah petak untuk mereka yang sudah berkeluarga. Di hadapan barak-barakitu terpisah oleh jalan terdapat bangunan memanjang berupa los  untuk pasar. Di bagian terdepan dari los itutelah diberi dinding dijadikan toko oleh orang Tionghoa. Mereka berdagangbarang kelontong, minuman keras termasuk bir, dan ada beberapa orang yangmenjual bahan pakaian. Di sisi los pasar itu terdapat sebuah panggung yangbagian atasnya beratap. Ini adalah tempat rombongan kesenian, seperti ketoprak,wayang orang, atau rombongan toneel (sandiwara) menggelar pertunjukan. Padasetiap hari gajian tempat ini ramai, ada saja kelompok kesenian yang pentas.Dan, tidak kurang pentingnya di tempat itu pada malam setelah gajian terdapatberbagai bentuk perjudian.

Josep melangkah memasuki teras, membuka topi dan jasnyaseraya melemparkannya ke atas kursi. Lalu dia duduk bersandar pada kursi kayuyang tidak bercat dibuat oleh para kuli untuk memenuhi keperluan kursi tamutuan mereka. Kakinya diregangkan lurus ke depan. Kepalanya bersandar padasandaran kursi.

?Jongooss!? Josep berteriak memanggil pembantunya.

Dari ruang dapur terdengar sahutan yang tidak kurangkerasnya.

 ?Ya, tuaaaaan??

 

Seorang lelaki muda bertelanjang kaki berlari melalui sisirumah ke arah teras. Setiba di ambang pintu teras ia berhenti, menganggukhormat.

?Tabik, tuan. Tuan sudah pulang??

?Kamu kira pukul berapa ini??

Si Jongos yang bernama Kartimin menengok ke arah matahari.Dia tersenyum, ujarnya, ?Ya, lebih tengah hari, tuan.?

Ia bergegas naik ke ruang teras. Lalu membuka kedua sepatutuannya. Dibawanya sepatu itu beserta topi dan jas ke belakang lewat sisirumah. Beberapa saat kemduian ia membawa teko almunium berisi  teh dingin dengan sebuah gelas beling.

?Silakan, tuan,? ujar Kartimin seraya menatap tuannya sesaat,lalu, ?Akan saya siapkan makan siang tuan.? Ia bergegas lari-lari kecil kedapur.

Kartimin seorang jongos yang merangkap tukang masak. Iasangat mahir membuat bistik dengan kentang goreng  dan buncis rebus atau daging gulung denganrebusan daun bayam. Sarapan pagi biasanya telur mata sapi, susu, dan air jeruk.Itu adalah menu makanan kesukaan tuannya setiap hari. Sebagai makanan penutupdibuatkannya puding maesena. Roti jarang didapat, karena harus membelinya diTanjungkarang kota perkebunan yang jaraknya lebih enam puluh kilo meter dariarea kebun baru ini. Kecuali jika jalan memintas menuju ke arah setasiunRejosari melewati rimba raya dan melintasi perkebunan yute atau goni (Hibiscus cannabinus) yaitu pohon yangmenghasilkan serat bahan pembuat karung goni.  Dari setasiun Rejosari menuju Tanjungkarang naik kereta api.

Josep mereguk teh dingin sebanyak dua gelas. Diambilnyacerutu dari kotak yang terletak di meja lalu menyulutnya. Sambil bersandar dikursi dinikmatinya aroma cerutu buatan Eropa yang tembakaunya berasal dariDeli. Asapnya mengepul ke atas. Sesekali sengaja ia membentuk bundaran-bundarandari asap cerutu itu. Dinikmatinya benar aroma cerutu kiriman dari Nederlanditu. Di luar angin lembut semilir menggerakkan pucuk daun pepohonan yangrindang. Burung-burung tekukur dan geruk dari hutan hinggap di pelataranmematuki remah-remah sisa makanan. Sesekali ia menatap ke kejauhan, nun disana  terhampar tanah telanjang. Seribuhektar telah ditanami, seribu hektar lagi telah terbuka dan tengah dipancangkantanda untuk penanaman dan sisanya dua ribu hektar masih berupa hutan belantara.Semuanya harus diselesaikan secepatnya tidak peduli berapa biayanya. Karetmempunyai masa depan. Pasar dunia berlomba meminta produksi karet daritanah-tanah jajahan bangsa Eropa di kawasan Asia Tenggara.

Kartimin menyiapkan makan siang. Setelah hidangan danperalatan makan tertata rapi segera memberi tahu tuannya. Josep makan sedikit.Puding maesena tidak disentuhnya. Makanan itu menjadi mubazir dibuang ke tempatsampah. Kartimin pun tidak menyukainya. Usai makan Josep tidur siang.

Selagi tuannya tidur, Kartimin menimba air dari sumur yangdigali agak jauh dari bangunan rumah-rumah itu. Ia mengisi bak kamar mandisampai penuh. Biasanya bila bangun tidur sore tuannya akan segera mandi. Handuk dan sabun mandi pun segera disediakanpada tempatnya.

Pukul empat sore terdengar suara lonceng yang ditabuh darihalaman kantor. Suaranya bergerincing sampai jauh. Bunyi lonceng pada sore harisebagai tanda kerja hari ini usai. Dari lahan kebun terdekat mandor menabuhkentongan menyambut suara lonceng yang jangkauan suaranya terbatas. Suara kentongan dari kebun yang di depandisambut oleh kentongan yang lain, demikian terus sambung-menyambungmengabarkan bahwa waktu kerja telah usai. Seluruh pekerja menghentikan kegiatanmereka. Mereka muncul dari berbagai penjuru bergegas mengalir dalam barisanpanjang menuju ke kantor, karena hari ini adalah hari gajian. Celoteh, candaria, berseling dengan tawa  terdengardalam berbagai bahasa, Jawa, Sunda, dan Melayu.

Josep pun bangun, ia memang terbiasa bangun pada pukul empatsore bersamaan dengan terdengarnya suara lonceng. Ia segera mandi. Bila bukanmasa gajian, biasanya Josep bersantai-santai di teras sambil membaca koran pagiyang datang terlambat tiga hari. Hanya dua kali dalam seminggu kurir dariKedaton datang ke lokasi ini membawa berkas pekerjaan, koran, dan surat pos.Sore ini Josep harus kembali ke kantor untuk membayar gaji para kuli.

  Di halaman kantorsetiap pekerja berbaris sambil berjongkok dalam kelompok masing-masing. Setiapkelompok mempunyai pengawas, seorang mandor. Para pekerja itu saling berbicaraperlahan-lahan hampir tidak terdengar. Di depan kantor terdapat dua buah mejadan kursi. Dua orang kerani meletakkan sejumlah uang perak di atas meja, Josepberdiri di belakang mengawasi. Pembayaran gaji itu dilakukan secara cepat dantertib. Salah seorang kerani menyerukan nama dari buku daftar pegawai danjumlah uang yang dibayarkan. Kerani yang seorang lagi menyerahkan uangnya. Satudemi satu para pekerjaan datang menghampiri meja, sambil membungkuk penuh hormatmereka menerima upah. Hampir-hampir para kuli itu tidak pernah memperhatikanberapa jumlah uang yang harus mereka terima. Mereka  percaya kepada juru bayar. Mereka beranggapan bahwa kerani yang menyerahkan uanggaji itu tidak berbohong. Demikianlah pikiran mereka yang sederhana itu. Kalaupun ternyata tidak beres, mereka tidak berani memprotes. Anggapan mereka hanyasalah hitung biasa, mereka merelakannya. Lagi pula bagi kebanyakan mereka uanggaji adalah alat untuk berjudi. Banayk atau sediktnya uang diukur dari lambatatau cepatnya waktu berjudi.

Pekerja yang terakhir dipanggil adalah Karya, nama lengkapnyaSukarya ia seorang kuli kontrak yang sudah lama bekerja di kebun. Ketika baru datang dari Jawa dia dipekerjakan sebagaikuli tanam, kemudian menjadi  tukangsadap. Di areal baru ini kembali ia menjadi penggali dan penanam bibit. Diayakin, kelak bila pohon karet di kebun ini telah layak disadap dia akandiperintah menjadi tukang sadap lagi. Ia tidak banyak berharap. Impiannya telahdikubur setelah selama beberapa tahun menerima kenyataan yang jauh berbeda dariharapan. Ia pindahan dari afdeling Kedaton. Istri dan seorang anak gadisnyaditinggal di barak sana. Dua pekan sekali biasanya ia pulang. Mendengar namanyadipanggil ia berdiri dan hendak beranjak ke arah juru bayar. Tiba-tiba munculseorang gadis kecil, tubuhnya tinggi langsing, usianya baru sebelas tahun. Diatampak kelelahan, rambutnya agak kusut masai, keringatnya membasahi sekujurtubuh. Walau gadis itu tampak lelah dan kusut masai, namun garis-gariskecantikannya tampak.

?Bapak?!? serunya.

Karya mengenali suara itu, dia menoleh. Betapa terkejutnyaketika dia melihat anak perempuannya bergegas menghampiri ke arahnya.

 ?Neng?!?

Gadis itu berdiri di hadapan Karya. Dari matanya yang beningitu menitik seberkas air. Isaknya terdengar berdesah bersamaan dengan napasyang terengah.

?Ada apa? Dengan siapa kamu ke sini??

?Sendiri.?

Karya heran, anak perempuan seusia ini berani melintas hutandatang ke tempatnya. Alangkah beraninya dia. Ada apa gerangan? Pasti adasesuatu yang amat penting. Dia bertanya, ?Ada apa?? Cemas dan iba bilamengingat anak gadis kecilnya melintas hutan datang kepadanya.

?Emak ??

?Kenapa emakmu??

?Sakit parah, Pak. Saya memberanikan diri menyusul Bapak.?

Mandor menghampirinya.

?Ada apa, Karya??

?Istri saya??

?Kenapa makmu, Neng??

?Sakit parah,  dua kalitidak sadarkan diri.?

?Sudah dibawa ke klinik??

?Sudah dua kali disuntik oleh Den Mantri,? sahut gadis itumenahan isak, lalu, ?Saya sengaja menyusul Bapak agar bisa pulang beberapahari.?

Menyaksikan percakapan mereka, Josep menghampiri.

?Ada apa, mandor??

?Tabik, tuan. Istri kuli Karya sakit parah.?

?Di mana??

?Di afdeling Kedaton, tuan.?

Josep menatap gadis yang tunduk terisak, hatinya iba. Lalumemandang kepada Karya.

?Karya, apa kamu mau menengok istri kamu, he??

?Tabik, tuan. Jika diizinkan??

?Ya, kamu saya beri izin tiga hari. Ambil dulu gajimu!?

?Tabik, terima kasih, tuan.?

Karya menyentuh bahu anaknya, lalu berbisik, ?Beri hormat danterima kasih kepada tuan kuasa.?

?Tabik dan terima kasih, tuan,? suara Sarimah terdengar lemahberbaur dengan suara isak tangisnya.

?Ya, jangan kamu menangis,? ujar Josep sambil tersenyum.

Namun, Sarimah tertunduk, tidak berani menatap wajah orangyang tersenyum menatapnya.

Setelah kuli terakhir menerima upah, giliran para mandordibayar. Lalu Josep dan dua orang kerani menghitung-hitung  sebentar, apakah semua pembayaran upah beres.Sisa uang kecil dimasukkan ke dalam kantong kain, yang nanti akan disimpan kedalam brankas. Terakhir Josep memberi perintah kepada para mandor untukpekerjaan esok.

Malam tiba dengan cepat. Cahaya yang mengambang di ujungsenja telah lenyap. Langit gelap, tidak ada seberkas bintang pun. Mendungmenutup seluruh lintasan langit. Angin semilir lembut. Nun, di los pasar dihadapan barak-barak para pekerja berpuluh-puluh obor menyala, mencoba mengusirkelam malam. Di atas panggung pertunjukan serombongan ketoprak tengah pentasdengan cerita Jaka Tingkir. Di sisi lain rombongan doger dengan para panjak(perempuan penari) yang bersolek sangat mencolok dikerumuni oleh penonton   membentuk lingkaran. Suara gendang, gamelan,suling, dan sindennya memecah kebisuan malam. Pedagang musiman yang umumnyaterdiri dari orang-orang Padang berteriak-teriak menjajakan jualan mereka.Bagian yang paling ramai adalah lapak perjudian. Hampir sebagian besar pekerjaberjongkok di sana mempertaruhkan uang gajinya. Dan, semuanya tidak pernah adayang menang. Ketika malam semakin larut upah mereka berpindah ke kantong parabandar judi.

Anehnya para pekerja itu tidak pernah mengeluh karena kalahdan uang gajinya habis. Mereka malah tertawa-tawa. Sabtu dua pekan lagi  mereka akan menerima uang lagi. Berjudi lagi,bekerja, menerima upah dan berjudi. Perjudian bak lingkaran setan yang tidakada ujungnya. Sepertinya perjudian memang dipelihara oleh para pengusahaperkebunan. Karena kalah, para pekerja tidak pernah mengakhiri masa kontraknya.Setiap masa kontraknya habis mereka perpanjang lagi karena tidak punya uangtabungan untuk pulang kampung. Bagi sanak famili di kampung, mereka merupakanorang yang terbuang, tak lagi diharapkan pulang.

 

 

Bagian Kedua

 

Sarimah berlari-lari kecil di belakang bapaknya. Lelakisetengah baya itu melangkah cepat. Kain sarungnya dililitkan di pinggang,ujungnya berada di atas dengkul. Pada bagian dalam terdapat celana pangsi  dari kain dril kasar yang sudah kehilanganwarna. Sebilah parang tersandang di pinggang. Ia bergegas, tidak sabar untukmenemui istrinya yang tengah terbaring sakit. Dari keterangan anak gadisnya,sakit sang ibu sudah sangat parah.

?Kita memintas jalan!? serunya.

Tanpa menunggu jawaban anaknya dia telah melompati parit kecil membelokmelalui jalan setapak ke arah hutan.

Perlahan-lahan Sarimah menuruni parit kecil. Dia khawatirkainnya tersangkut ranting semak. Setiba di ujung parit ia bergegas mengejarbapaknya.

Jalan setapak ini biasa dilalui oleh para pencari kayu ataugetah damar. Pohon damar tumbuh liar berselang-seling dengan berbagai jeniskayu. Tanahnya agak lembek karena hujan. Rumput halus tumbuh subur terhampar disepanjang alur jalan sempit itu sehingga lembut dipijak kaki tak beralas.Pohon-pohon besar menjulang tinggi memagari keduanya. Jalan setapak yang sempititu berkelok-kelok, yang pada suatu tempat kadang menurun terjal dan mendaki.Kemarin, Sarimah tidak melalui  jalanini. Dia melewati jalan rintisan yang biasa dilalui oleh kendaraan kecil menujuke lokasi. Sesekali dia menumpang gerobak penduduk pribumi yang pulang dariladang.

Senja berangsur lenyap. Ketika mereka tiba di tengah hutanmalam  telah menurun. Sekitarnya menjadikelam. Rimba itu sunyi menyekap rahasia alam. Hanya dengung serangga malam yangterdengar.  Tetapi Karya  hapal akan jalan setapak itu. Disusurinyaterus jalan sempit yang membelah rimba raya. Parangnya yang tajam  digenggam dengan tangan kanan. Kadang iaharus menebas cabang semak yang menghalangi jalan. Udara lembab, dinginmenyengat.  Sesekali terdengar suaralengking kijang jantan di kejauhan. 

Menjelang dini  Karya dan anakperempuannya keluar dari tengah belantara. Mereka  memasuki daerah semak belukar. Berbagaitumbuhan sulur melintang menghalang jalan. Namun sulur-sulur itu pun robohditebas parang yang sangat tajam. Beberapa saat kemudian mereka melintasibatang air yang dangkal. Segerombol babi hutan yang sedang minum di tepi batangair terkejut. Gerombolan babi hutan lari memintas batang air. Secara refleksKarya bersiaga dengan parangnya. Sarimah berlindung di belakang ayahnya.Gerombolan babi hutan yang habis memangsa tanaman di ladang penduduk itu larimasuk  rimba.

?Saya lelah, pak!? seru Sarimah.

?Di ujung sana ada dangau, kita bisa beristirahat,? ujar bapaknya.

Keluar dari batang air memasuki sisi hutan yang telah dirambah menjadidaerah perladangan penduduk. Pohon kopi dan ubi terhampar berseling dengansisa-sisa tebangan batang pohon yang teronggok kaku. Perladangan penduduk ituberpagar pohon taji atau dikenal juga dengan sebutan ki puteri (Podocarpusneriifolius), sebagai pembatas kepemilikan dan melindungi dari seranganhama babi hutan. Pada setiap kebun terdapat sebuah dangau sebagai tempattinggal pemiliknya. Nun, diujung perladangan tampak kelip api obor menyala.

?Itu ada dangau. Obornya menyala, pasti ada yang menunggu. Kita bisaberistirahat sejenak di sana.?

Sarimah menatap kelip obor yang kobaran apinya tampak redup dan kecil. Diamemperkirakan dangau itu masih jauh dari tempatnya berada. Dia sudah sangatlelah berjalan pulang pergi tanpa istirahat. Tetapi dia tidak mengeluh lagi.Dia terus berjalan  mengikuti langkahkaki bapaknya.

Gerimis turun renyai. Udara semakin dingin. Karya menebas dua helai dauntalas hutan. Sehelai diserahkan kepada anak gadisnya. Mereka berpayung dengandaun talas. Khawatir hujan semakin deras, Karya menggegas langkah. Nyala oborsemakin tampak jelas. Lidah apinya bergoyang-goyang tertiup angin sepertilenggok penari ronggeng.

?Siapa?? dari rumpun semak terdengar suara teguran.

Sarimah terkejut. Dia menghentikan langkah.

?Saya ? Karya!?

Seorang lelaki muncul dari balik semak. Sehelai kain yang dalam bahasaLampung disebut selikap tersampir di leher. Selikap adalah sehelai kaintenun khas daerah yang serba guna, berfungsi sebagai penutup leher pada udaradingin juga sebagai handuk ketika usai mandi. 

?Kang Karya. Dari mana mau ke mana malam-malam begini??

Lelaki itu bernama Hasan, mereka sudah saling kenal.

?Bang Hasan. Sedang menjaga kebun rupanya??

?Kang Karya dari mana?? lelaki itu menengok ke arah Sarimah, ?Siapa ini??

?Ini anak saya. Saya sekarang bekerja di areal baru. Saya mau menengokistri di Kedaton.?

?Malam-malam begini? Apa tidak ada waktu besok??

?Istri saya sakit parah.?

?Sekarang banyak maling.?

?Maling??

?Ya. Tetapi malingnya bukan manusia, orang Lampung tidak ada yang jahat.Malingnya adalah babi hutan yang memangsa kebun dan si tamong yang sukamasuk ke kampung memangsa hewan peliharaan.?

Karya menghela napas. Tamong adalah sebutan atau julukan untuk harimau.Penduduk asli pantang menyebut hewan ganas si raja hutan itu dengan namasebenarnya, yaitu harimau atau macam. Mereka memberi julukan kehormatan sitamong  supaya tidak terkena tulah.

 ?Ayo, Kang Karya, singgah dulu kedangau. Minum kopi, istri dan anak saya pun ada di sana. Saat ini pohonkopi  mulai berbunga, kebun perlu ditunggu.?

Karya dan Sarimah singgah ke dangau Hasan. Mereka duduk di lantai terasdangau yang berupa panggung setinggi satu meter dari permukaan tanah. Untuknaik ke teras tersedia tangga dari kayu kasar. Hasan mengangkat ceret daritungku dapur yang berada di kolong dangau.

?Kopi panas,? ujarnya seraya menuangkan dua mangkok kopi  dari ceret. Lalu ia menyodorkan sebuah piringkaleng berisi gula tebu, ?Ini gulanya. Ada singkong bakar.?

Hasan turun lagi mengambil dua batang singkong bakar.

?Lumayan untuk mengganjal perut pada udara dingin,? ujarnya  seraya menyodorkan dua batang singkong bakaryang masih mengepulkan asap.

?Tidak usah repot,? Karya berbasa basi.

Mendengar suara orang bercakap-cakap, istri Hasan terbangun. Ia membukapintu kamar yang berada tepat di depan teras.

?Ooh, rupanya Kang Karya,? sapanya.

?Ya, Minan [1].?

?Kang Karya dari mana??

?Dari tempat kerja. Saya mau menengok istri di Kedaton.?

Istri Hasan menengok ke arah Sarimah.

?Ini Imah, bukan??

?Iya, ? sahut Sarimah.

?Kamu sudah gadis.? Dia menengok ke arah Karya, ?Kang Karya sebentar lagipunya mantu.?

Mereka sudah saling kenal. Karya dan istrinya sering ke perkampunganorang-orang Lampung untuk membeli gabah, ubi kayu, dan sesekali membeli ayam.

?Apa kabar Si Teteh[2]??

?Sedang sakit. Menurut Imah sakit keras, saya akan menengoknya.?

?Memangnya Kang Karya dari mana??

?Sekarang saya bekerja di areal perkebunan yang baru dibuka.?

Terdengar rengek anak kecil dari dalam kamar.

?Duduklah. Saya harus menyusui anak dulu!?

Daerah perladangan orang Lampung berada jauh dari perkampungan tempatmereka bermukim. Pada masa itu mereka masih mengerjakan pola ladang berpindah,kecuali untuk kebun tanaman keras seperti lada, kopi, dan cengkih. Untukmenjaga ladang menjelang panen mereka membangun gubuk-gubuk  Perkampungan orang Lampung yang disebut tiyuh,anek, atau pekon  selaluberada di dekat sungai. Rumah-rumah mereka dibangun agak rapat menghadap kesebuah alur jalan desa. Sungai berada di bagian belakang bangunan rumah. Padasetiap tiyuh terdapat sebuah rumah kerabat yang disebut nuwo balak atau nuwomenyanak  di sekitar rumah kerabatitu dibangun pula rumah-rumah lain yang masih berada dalam satu rumpunkekerabatan atau marga (clan).  Tidakjauh dari bangunan rumah-rumah pemukiman terdapat tanah lapang kecil yang padasuatu sisinya terdapat bangunan berbentuk panggung yaitu rumah adat yangdalam bahasa Lampung disebut sesat. Seperti namanya rumah adat hanyadigunakan dalam upacara-upacara adat saja, misalnya perkawinan, pemberian gelarkebesaran, dan lain sebagainya yang bertalian dengan adat.

Karya dan Hasan saling berbincang-bincang. Tetapi Karya tidak bisaberalama-lama di ladang sahabatnya itu.Setelah mereguk semangkuk kopi danmenyantap sepotong singkong bakar Karya pamit,  Saya permisi. Saya ingin cepatsampai ke rumah.?

?Ya, hati-hati di jalan. Apakah perlu membawa obor??

?Terima kasih. Saya bisa melihat jalan, lagi pula sebentar lagi fajar akanterbit.?

Karya dan Sarimah melanjutkan perjalanan. Sekarang mereka melintas jalankecil di antara kebun-kebun kopi penduduk pribumi. Pada kedua sisi jalanterhampar hijau daun dan harum bunga kopi. Sesekali musang melintas hampirmenabrak kaki keduanya. Lalu mereka melalui hutan semak belukar dan beberapasaat kemudian sudah memasuki kebun karet afdeling Kedaton. Dalam cahayatemaram  tampak pohon-pohon karet  tegak berjajar.  Embun menggantung di  celah-celah pohon  membentuk kabut berwarna kelabu.  Hari mulai mendekati fajar. Raung suara mesintruk-truk pengangkut getah karet mulai terdengar. Para kuli sadap lelaki danperempuan mulai bekerja. Mereka  menyadappohon dan mengumpulkan getah karet. Mereka tidak peduli akan kehadiran duaorang lelaki dan perempuan yang tengah bergegas. Bahkan menengok pun tidak.Tampaknya mereka lebih berkonsentrasi pada pekerjaan menoreh kulit batang karetdengan pisau sadap.

Hari telah terang tanah ketika mereka tiba di barak. Sekitarnya sepi.Hanya ada beberapa orang tetangga yang di rumah, yakni perempuan-perempuan tuayang sudah tidak kuat bekerja sebagai tukang sadap. Mereka menyongsongkedatangan Karya dan Sarimah.

?Kang Karya,? sapa seorang perempuan agak tua, ?sudah seminggu istri akangterbaring. Cepatlah temui.?

Karya bergegas masuk. Ruang barak yang sempit itu berpenerangan lamputeplok. Seorang perempuan setengah baya tergolek di bale-bale papan rendah.Sehelai tikar lusuh mengalasi kasur yang sudah menipis.

?Enok[3],?Karya menyapa seraya duduk di tepi pembaringan. Mata Karya menatap ke wajahistrinya. Wajah perempuan itu pucat, matanya agak terpejam seperti layaknyatengah tidur lelap, tetapi mulutnya sedikit terbuka. Karya meraba pipiperempuan itu. Dingin. Lelaki setengah baya ini terkejut. Tangannya diletakkanpada lubang hidung. Tidak ada hembusan napas. Karya menyentuh lehernya, tidakada denyut, ?Enok? Enok ?? Diguncangnya tubuh perempuan itu. Diam dan kaku.Hatinya terguncang. Serta-merta rasa haru sedih menyesak di dada.Perlahan-lahan ia menoleh ke arah anak perempuannya yang berdiri tegang disisinya. Sarimah menatap tajam ke arah wajah sang ayah. Wajah tua itumenyiratkan rasa duka yang sangat dalam.

?Mak!? seru Sarimah dengan perasaan yang tidak menentu.

?Makmu sudah tidak ada!?

?Mak ??? tiba-tiba ada sesuatu yang menyesak di dada, air matanya puntumpah dalam isak tangis. Maknya telah pergi, tak sempat lagi bersua bapak.Tiada kata akhir, tak ada pesan. Mengapa dia tidak mau menunggu kedatanganbapak? Pada hal maklah yang memintanya menyemput bapak.  Tangisnya semakin menjadi.

Karya tertunduk menekuri perempuan yang selama lebih dari  lima belas tahun menemaninya dengan setia di pedalaman Sumatera Selatan ini. Telah selamaitu perempuan ini terenggut dari keluarga dan desa asalnya nun jauh di tanahJawa sana. Perempuan ini tidak pernah mengeluh menjalani kehidupan amatbersahaja di pedalaman Lampung. Karena, memang sudah tekadnya mengikuti lelakisedesa bernama Karya ini.

Perlahan-lahan ingatan Karya menerawang ke masa lalu.

 

                

 

Bagian Ketiga

 

Sukarya masih sangat remaja, baru enam belas tahun usianya.  Dengan bertelanjang dada ia menunggangkerbau.  Tubuhnya penuh bercak tanah. Iabaru selesai membantu ayah membajak sawah. Matahari mulai condong ke arahbarat. Sebentar lagi sang surya akan tenggelam di  permukaan bumi.  Ia berjalan melewati pematang sawah-sawahtetangga menuju ke anak sungai akan memandikan kerbau. Di ujung persimpangandekat pancuran air Karsinah mencegatnya.

?Kang Karya!? 

?Hei, Inah?.?

Karya memperhatikan gadis yang dua tahun lebih muda dari usianya. Gadisini cantik, kembang di kampungnya. Mereka bergaul sejak kecil. Dan, manakalamereka sama beranjak dewasa, tumbuhlah rasa cinta di antara keduanya. Sudahlebih dari dua tahun hubungan cinta itu terjalin. Gadis itu berdiri di sisikerbau yang ditunggangi Karya. Dia tidak membawa tabung air, tidak membawabakul cucian. Pada pakaiannya pun tidak ada bercak air. Berarti gadis itu bukandari sungai. Karya mengalihkan tatapannya ke wajah sang gadis. Pada wajah yanglugu dan ayu itu terdapat garis-garis keresahan.

Karya melompat turun dari punggung kerbau. Ia berdiri di hadapan sanggadis. Ia bertanya, ?Ada apa, Inah??

Inah tertunduk.

?Ada apa?? Karya tak sabar.

Inah diam. Membisu.

Sepasang burung balam hinggap di onggokan tanah tak jauh dari mereka.Burung jantan dengan suara khasnya merayu sang betina. Kaki sang jantan yangramping itu mencakar-cakap punggung betinanya. Si betina sesaat merendahkan  tubuh dan mengangkat ekornya. Bersamaandengan itu kerbau jantan Karya menggeleng-gelengkan kepala dan melenguh. Burungbalam betina terkejut, serta-merta terbang ke angkasa. Si jantan yang kecewapun segera menyusulnya.

Inah masih diam, tunduk bak onggokan kayu kering.

?Katakan, ada apa, Inah.?

Perlahan-lahan Inah mengangkat wajah, lalu menatap lelaki yang sangat diacintai. Hatinya sendu, sekujur tubuhnya lunglai bak bukit yang runtuh. Akutidak ingin kehilangan lelaki ini, keluh hatinya. Tetapi, mungkinkah melawansuatu kebiasaan yang mengatur tatanan kehidupan kelompok masyarakat di desaini? Setiap anak perempuan harus patuh kepada kehendak orang tua. Kehidupanmasa kini dan masa depannya pun sepenuhnya berada pada genggaman tangan orang tua.Sebagai anak gadis bercintaan tidaklah dilarang.  Namun, belum tentu akan berlanjut dengan perkawinan. Jodoh sepenuhnya diatur olehorang tua. Inah pun begitu, sejak mulai beranjak remaja dia mencintai Karya.Sekarang, ia harus menurut kehendak orang tua untuk menikah dengan lelaki yangbukan pilihannya.

?Saya telah dipinang,? suara Inah lemah.

?Dipinang?? Karya tidak yakin.

Inah mengangguk lemah.

Karya amat terkejut.

?Siapa meminang kamu??

Saat itu dari lembah arah sungai muncul beberapa orang gadis menjinjingkeranjang cucian dan ada pula yang membawa tabung bambu berisi air untuk minum.

?Ei.. Inah ?. Kang Karya,? seseorang menyapanya.

?Bebogohan[4] ei?!?seru yang lain.

Inah tersipu rikuh.

Karya tersenyum.

Gadis-gadis itu menghampiri keduanya. Mereka tahu bahwa kedua remaja inimemang saling mencinta. Sudah lama  paragadis dan bujang di desa itu tahu kalau Karya mencintai Inah.

?Kelihatannya Kang Karya mau ke sungai,? ujar salah seorang gadis.

Yang lain bertanya, ?Kang Karya mau memandikan kerbau??

Karya mengangguk.

?Cepat atuh, tereh burit[5]!?ujar yang lain.

?Inah rek milu[6] atau maupulang?? sapa yang lain.

Inah semakin rikuh.

?Ya, sudah. Mari kita tinggalkan mereka berdua supaya semakin asyikbermesraan,? lanjut gadis yang menyapanya itu.

Gadis-gadis yang lain tertawa riuh. Lalu mereka melanjutkan perjalanan.

Karena segan dengan teman-teman Inah mengikuti gadis-gadis itu berjalan kearah rumah. Namun, baru saja ia berbaur dengan para gadis Karya memanggilnya.

?Inah?!?

Karya penasaran belum mendapat jawaban pasti dari Inah.

Gadis-gadis itu berhenti melangkah. Mereka menatap Inah. Inah tampak ragu.

Salah seorang berujar, ?Inah, kesana kabogoh[7]manggil!?

Inah tetap diam. Tegak kaku bagai onggokan kayu lapuk.

?Ulah isin, jung[8]?seru teman-temannya.

Karya berlari menghampiri.

?Kamu belum menjawab pertanyaan akang.?

Gadis-gadis yang lain tidak mau mengganggu. Mereka meninggalkan Inah danKarya berduaan.

?Pertanyaan apa??

?Siapa yang meminang kamu??

?Bapak Lebe[9].?

?Pak Lebe?? Karya terkejut, ?Jadi kamu akan dijodohkan dengan si Ikin??

Inah tidak menyahut, tiba-tiba ia berlari.

?Inaaah?!? teriak Karya.

Namun, Inah menoleh pun tidak. Ia terus berlari menyusul para gadis.

Karya sangat kesel. Perasaannya terguncang.

?Tidak boleh. Tidak boleh. Inah tidak boleh menikah dengan Ikin.?

Sesaat ia tertegun. Bagaimana caranya aku bisa mencegah agar Inah tidakmenikah dengan Ikin? Bagaimana  bisamempersunting Inah? Meminangnya? Mustahil, gadis itu sudah lebih dulu dipinangoleh orang tua Ikin. Lagi pula, orang tuanya tidak mempunyai harta untukmeminang sang gadis. Harta milik keluarga hanya seekor kerbau dan sebidangsawah. Emas, perak? Jangankan memiliki, melihat pun tidak pernah. Karyaberbalik seraya menuntun kerbaunya ke sungai. Berlama-lama ia di sungaimemandikan kerbau. Hatinya gundah, sedih, dan sakit. Ketika terdengar bedukditalu di surau pertanda waktu magrib tiba, Karya keluar dari sungai. Iamenuntun kerbaunya pulang dan memasukkannya ke kandang.

Malam ini Karya gelisah. Ia tidak dapat tidur. Bahkan makanannya yangberupa rebus singkong dengan kelapa parut pun tidak disentuh. Paginya tubuhKarya lesu, tidak bergairah. Akan tetapi ia tidak bisa mengelak untuk tidakmembantu ayahnya membajak sawah. Sebentar lagi musim tandur. Tugas paraperempuan bergotong rayong menanam benih padi di sawah. Selanjutnya padi akandiurus lagi oleh kaum lelaki. Bila tidak ada halangan dalam tiga purnama panenakan tiba. Kembali lagi kaum perempuan bergotong royong menuai padi.

Hari-hari terus berlalu. Berita tentang Pak Lebe meminang Inah tersebarluas. Telah pula disepakati saat panen tiba pesta perkawinan akandilangsungkan. Karya semakin gelisah. Dia tidak menemukan jalan keluar.Semuanya buntu. Akankah aku menyerah? Alangkah sakit hatiku. Alangkah perihperasaanku. Waktu panen semakin dekat. Inah pun sudah mulai dipingit, tidakboleh lagi keluar bergaul dengan para gadis. Karya selalu menyendiri. Cintaputus di tengah jalan.

Pada suatu malam, ketika itu bulan empat belas. Langit benderang.Bintang-bintang pun bertabur riang, angkasa tidak menyimpan awan. Waktu hampirmenyelang salat Isya. Karya berjalan sambil menggendong ikatan rumput untukmakan kerbau. Waktu ia melewati sisi alun-alun tampak orang-orang lelaki dudukmelingkar. Karya menghentikan langkahnya. Ada apa gerangan? Jika ada keramaianmengapa tidak ada tetabuhan? Ia memperhatikan. Di tengah lingkaran orang-orangyang duduk mencangkung  tampak ada orangbaru.  Karya melangkah menghampiri. Orangbaru yang tidak dikenalnya itu sedang bicara. Dari logat bicaranya dia bukan orangSunda.

?Siapa itu?? Karya berbisik kepada orang di sebelahnya.

?Orang Betawi.?

?Mungkinkah dengan hanya mengolah sawah sepetak kalian mampu membeli emasdan punya uang??

Orang-orang saling pandang. Lalu sama menggeleng.

?Tidak mungin, bukan!? seru lelaki dari Betawi yang berpakaian rapi, jasputih, berkopiah satin hitam, dan kain pelekat Bugis halus. Ia meneruskanbicaranya, ?Nah, ikutlah bekerja ke seberang. Di sana ada rumah gedung, uangbanyak, bisa membeli emas. Sebab di seberang di daerah baru emas murahharganya. Bahkan kalian bisa mendapat perempuan-perempuan muda yang cantik.?

Karya meletakkan rumput di tanah. Ia tertarik akan ucapan orang asing.Orang-orang desa yang duduk semakin bergairah mendengar tentangperempuan-perempuan muda yang mudah didapat. Apakah di sana tidak ada tatakrama lagi sehingga perempuan cantik mudah disunting? Mereka sulit berfikir.Hanya kegairahan dan nafsu serakah mereka bangkit. Begitu mudah mendapat hartadan perempuan, pikir mereka.

?Di daerah baru kalian bebas berjudi,? orang Betawi itu menebar racunlagi.

Orang-orang saling pandang. Lalu terdengar guman seperti dengung suaralebah pindah. Masing-masing saling bertanya antarsesama, benarkah di daerahbaru boleh berjudi? Di tanah Sunda judi dilarang. Benarkah di seberang begitubebas? Di manakah daerah seberang yang menimbulkan impian dan kegairahan itu?

?Apakah di sana berjudi tidak ditangkap polisi?? seseorang bertanya.

?Tidak.?

?Wah,? guman berdesah dari setiap bibir membuat dengung rendah yang riuhdi antara kesenyapan alam.

?Di manakah daerah baru itu?? terdengar suara Karya memecah keriuhan gumanpara lelaki yang berjongkok mengelilingi orang Betawi itu. Orang-orang menolehke arah Karya.

?Kamu tertarik kepada judi, Karya?? seorang setengah baya bertanya.

Karya menoleh ke arah lelaki itu, seorang setengah tua yang dikenal alim,selalu menjadi imam salat di surau, mengajar membaca Al-quran kepada anak-anakdesa. Karya menggeleng.

?Bukan karena judi,? sahut Karya.

?Hem. Hati-hati, si pendatang ini menyebar racun,? ujarnya serayameninggalkan kalangan itu.

Orang Betawi itu memandang ke arah Karya. Ia melihat seorang anak mudayang tegap. Di dalam hatinya ia berujar, ?Anak muda seperti ini yang aku cari!?Ia melihat ikatan rumput yang tergeletak di sisi anak muda itu. Lalu ujar, ?Disana kamu tidak perlu mencari rumput. Kamu bekerja dan dapat uang banyak. Kamudapat menyunting gadis cantik.?

?Di mana daerah itu?? tanya Karya lagi.

?Di Sumatera.?

Karya tidak tahu di mana Sumatera itu, yang dia kenal hanya lingkungan desadan hutan sekitarnya.  Dia belum pernahkeluar dari desanya. Bahkan ke pasar kota kecamatan pun  dia tidak pernah pergi. Terucap di hatinya,aku akan pergi dari desa meninggalkan Inah, orang tua, teman-teman. Aku akanjauh dari mereka. Jauh dari Ikin, teman yang merampas kekasihnya.

?Kamu mau bekerja di sana?? orang Betawai mendesak.

Karya menghela napas. Dipanggulnya ikatan rumput. Dia hendak melangkahmeninggalkan kalangan itu.

?Tunggu!? seru si pendatang.

Langkah Karya surut. Di benaknya muncul sebuah gagasan. Mengapa aku tidakmembawa lari Inah? Ya, aku akan membawa Inah ke Sumatera. Tetapi, bagaimanacaranya? Sebelum lelaki asing itu bicara, Karya bertanya, ?Bolehkah pergi keSumatera membawa istri??

Orang-orang menoleh memandang Karya.

?Hei, sejak kapan kamu kawin?? seseorang bertanya.

?Ya, sejak kapan kamu punya istri?? tanya yang lain.

?Ah, dia ?kan cuma bertanya!? seru yang lain.

Penduduk desa itu tahu kalau Karya masih bujangan, belum punya istri.

Orang Betawi itu tersenyum, ia melangkah mendekati Karya. Kerumunan orangmenyingkir memberi jalan. Orang Betawi itu berdiri di hadapan Karya. Diamatinyalelaki muda yang gagah dan berbadan tegap itu. Dia tersenyum.  Karya berdiri agak rikuh menghadapi sipendatang yang amat perlente ini. Senyum si pendatang semakin terkembang, bukankarena keramahannya tetapi di benaknya tampak bayangan gulden, uang komisi dariagen pencari kuli kontrak.

?Pemuda seperti kamu punya harapan. Kamu mau ke Sumatera? Kalau mau kamuboleh membawa istri. Di sana istrimu bisa bekerja, mengumpulkan uang. Kalianakan cepat kaya.?

Karya tidak menyahut, ia mendesahkan napas dalam ketidakpastian. Serayadipanggulnya ikatan rumput lalu ia melangkah meninggalkan kalangan itu.

Orang Betawi itu mengangkat tangan hendak mencegah Karya. Tetapi tidakjadi dilakukannya. Dia hanya tersenyum dan akal liciknya pun muncul di benak.Dia akan mencari akal agar lelaki muda itu terbujuk ikut ke Sumatera.

Malam itu Karya berbaring berbantalkan kedua tangan. Ia melamun dalamruang sempit yang temaram yang hanya diterangi oleh cahaya lampu sintir. Bukanharta, bukan perempuan, dan bukan pula kebebasan berjudi yang menarik daridaerah baru itu. Hanya karena hasrat hendak membawa lari gadis idaman daridesanya, dari renggutan orang lain. Hasrat hendak menyunting sang kekasihmenyebabkan hatinya semakin keras untuk meninggalkan desa. Kapan lagi jikabukan sekarang, saat ada kesempatan dan ada orang akan membawanya ke tempatjauh. Tidak ada yang lain yang dibayangkan oleh Karya, selain suatu kebahagiaanbersama Inah sang kekasih. Tetapi bagaimana kalau Inah tidak mau  dibawa lari? Tiba-tiba saja rasa gundah dansedih bangkit di hati. Keputus-asaan meresapi seluruh aliran darah. Sesaat diatepekur. Kalau memang itu kenyataann dia tetap bertekad hendak lari dari desaini membawa duka lara patah cinta. Namun, betapa pun aku akan berusaha mengajakInah pergi jauh, menjalin kasih bersama di tempat yang tidak pernah diabayangkan sebelumnya.

Selama tiga hari Karya terus gelisah. Dan, setiap malam iatidak dapat tidur lelap. Pada malam keempat orang Betawi itu datang lagi kedesa. Pada tengah malam, saat Karya dalam gelisah di pembaringan tiba-tiba iamendengar suara ketukan di dinding. Malam telah larut, seisi rumah telah tidurlelap. Ia menegakkan kepala, perhatiannya menembus kegelapan. Ketukan berulang,perlahan tetapi tegas. Lalu senyap. Seekor curut mencericit lari ke sudut laindalam ruang itu.  Terdengar lagi suaraketukan. Ia bangkit. Perlahan-lahan berjalan ke arah pintu, membukanya. Di luartampak si pendatang bersama dua orang pemuda desa,  Idin dan Asep.

?Kami akan berangkat. Bagaimana, mau kamu ikut?? desak si pendatang.

Karya memandang Idin  dan Asep.Teman sedesanya itu tersenyum bangga. Karya harus segera mengambil keputusanapa pun yang akan dihadapinya.

?Tunggu saya di jembatan bambu sana,? ujarnya.

?Ya, kami tunggu di sana. Jangan terlambat nanti kamu menyesal,? ujar sipendatang dengan senyumnya yang ramah dan licik.

Karya berkemas membawa pakaian sekadarnya. Lalu ia bergegas ke rumah Inah.Tekadnya telah bulat akan membawa Inah pergi. Rumah keluarga Juru Tulis desaitu sangat sepi ketika Karya memasuki pekarangannya. Ia sangat hapal di manakamar Inah. Diketuknya dinding kamar Inah. Ketika itu Inah sedang tidak dapattidur lelap. Sepanjang malam ia gelisah seperti memfirasatkan akan terjadisesuatu. Entah apa gerangan. Kegelisahannya berlarut sepanjang malam. Sampaihampir dini ini dia masih membuka mata. Pandangannya menerawang ke ataslangit-langit atap kamar yang gelap. Dari halaman rumah terdengar nyaring suara jengkrik. Suara jengkrik jantanitu merintih dan mendayu mengisyaratkan jantan yang merindukan betina.Tiba-tiba suara jengkrik itu berhenti ada sesuatu yang menganggunya. Lalu iamendengar pijakan kaki pada daun-daun kering yang terserak di halaman. Dalamsenyap malam suara-suara aneh itu terdengar jelas. Apakah gerangan? Musang?Harimau kumbang yang hendak memangsa ternakkah? Akhir-akhir ini pendudukmeributkan adanya anak harimau yang masuk ke desa memangsa kambing. Mungkinkahitu anak harimau, pikir Inah. Beberapa saat kemudian ia mendengar ketukan padadinding, lalu samar suara memanggilnya.

?Inah? Inah?.?

Senyap lagi. Semayup dari kejauhan terdengar nyanyi burung hantu.   Ketukan lembut terdengar lagi di dinding.Dinding dari anymanan bambu itu agak tergetar karenanya.

?Inah?.?

Inah menegakkan kepala mengamati suara di luar. Suara panggilan itu diakenal. Suara itu menembus celah dinding sampai ke relung hati. Dia bergegasbangkit, berjalan ke dinding, ditempelkan sebelah telinganya ke dinding.

?Siapa??

?Aku Karya.?

Ya, suara itulah yang dia dengar. Suara yang sangat dia kenal dan telahbertahun-tahun diakrabinya. Beberapa waktu ini sangat dia rindukan. Dia segeramembuka jendela. Manakala daun jendela menganga kepalanya disembulkan ke luar.Ketika nampak Karya sang kekasih berdiri di ambang jendela,  hampir saja dia berteriak kegirangan.

Karya menempelkan jarinya ke mulut, mengisyaratkan agar diam.

?Kang?,? suara Inah perlahan seperti berbisik, ?ada apa, Kang??

?Ayo, kita pergi.?

?Pergi?? perasaan Inah tidak menentu.

?Ya, pergi jauh. Kita menikah di sana, di tempat jauh.?

?Ke mana, Kang??

?Jangan bertanya, cepatlah berkemas!? 

Terdorong oleh kegairahannya, Inah segera berkemas. Ia mengambilseperangkat pakaian lalu dibungkus dengan kain batik. Lalu ia keluar melompatijendela. Karya membantunya menuruni bingkai jendela yang rendah  kemudian menuntunnya berjalan dalam cahayabulan yang temaram.

?Ke mana kita, Kang??

?Kita pergi jauh, sayang. Pergi jauh untuk menggapai kebahagiaan.?

Inah menunduk.

?Kamu keberatan??

Inah menggeleng.

Karya merangkul pundak gadis itu berjalan menuju ke luar desa.

Si pendatang dari Betawi bersama Idin, dan Asep menunggu mereka di ujung jembatan batas desa. Ketikamelihat Karya datang b


Rss_feed

Welcome

Webs Counter

Share on Facebook

Share on Facebook

Powered by Webs

poetra Indrajaya


Recent Forum Posts

No recent posts

My IP

Users Online Now

Post & Promote (digg, etc.)

Recent Blog Entries

Page_white_text
0 comments